Sb. http://www.islampos.com/apa-siapa-di-balik-vaksin-imunisasi-1067/
SEORANG dokter di sebuah kota kecil di Jawa Barat
beberapa tahun yang lalu berkata dalam sebuah forum: “Tiga anak saya
satupun tidak ada yang diimunisasi. Dan mereka semua baik-baik saja!”
Pernyataan sang dokter sontak membuat semua orang yang tengah bersamanya
terkejut. Sebagian mengernyitkan kening. Sebagian lain tampak sudah
tahu dari berbagai referensi terutama internet. Sebagian lain tiba-tiba
saja menjadi was-was.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, imunisasi menjadi sebuah perhatian besar bagi keluarga muda yang melek media dan teknologi.
Jika kita merunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner
Brothers, kita dapat menemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian
tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller.
Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling
berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionisme
Internasional.
Dan kenyataannya, mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis
lainnya : The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s
foundation in 1948 the year after the same Rockefeller cohort
established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation
established the U.S. Government’s National Science Foundation, the
National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public
Health Service (PHS). (Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine
Flu PropagAnda”).
Dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi modern (atau
kita menyebutnya imunisasi) adalah salah satu campur tangan (baca :
konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperbudak
seluruh dunia dalam “New World Order” mereka.
Apa Kata Para Ilmuwan Tentang Vaksinasi?
“Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah
digunakan.” (Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan
Nasional Amerika).
“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang.
Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.” (Dr. Richard
Moskowitz, Harvard University).
“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar
mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak
seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi
sebelumnya.” (Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris).
“Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif
yang tidak dapat diartikan secara umum.” (dr. Harris Coulter, pakar
vaksin internasional)
“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada
tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan
menjadi 80%.” (Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun
1962).
“Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu
(Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus
autisme.” (Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional).
“Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan
orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif,
kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis
reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang
tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia
saat ini.” (Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional
Amerika).
“Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke
dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan
kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada
vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan
semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan
Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan
memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.” (Dr. William Hay, dalam buku
“Immunisation: The Reality behind the Myth”).
Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan yang lainnya. Dan ternyata
faktanya di Jerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat,
menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam
“Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang
berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Suspectible
Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu
disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak
terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para
pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar
pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik
menolak suntikan vaksin rubella.
Apa rahasia di balik vaksin dan imunisasi
Menurut penelitian tentang imunisasi yang telah di lakukan sejak
beberapa tahun lalu. Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim ke
berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara
dunia ketiga, dan negara berkembang), adalah sebuah proyek untuk
mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut.
Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak
ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tahu bahwa vaksin didapat dari
darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit
tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang inang dari
tempat virus dibiakkan tersebut. Pernahkah Anda berpikir apabila DNA
orang asing ini tercampur dengan bayi yang masih dalam keadaan suci?
DNA adalah berisi cetak biru atau rangkuman genetik leluhur-leluhur
kita yang akan kita warisi. Termasuk sifat, watak, dan sejarah
penyakitnya. Lalu apa jadinya apabila DNA orang yang tidak kita tahu
asal usul dan wataknya bila tercampur dengan bayi yang masih suci?
Tentunya bayi tersebut akan mewarisi genetik DNA sang inang vaksin
tersebut.
Pernahkan Anda terpikir apabila sang inang vaksin tersebut dipilih
dari orang-orang yang terbuang, kriminal, pembunuh, pemerkosa, peminum
alkohol, dan sebagainya?
Dari banyak sumber yang saya dengar selama ini, penelitian tentang
virus dilakukan kepada para narapidana untuk menghemat biaya penelitian,
atau malah mungkin hal itu disengaja? Zat-zat kimia berbahaya dalam
vaksin. Vaksin mengandung substansi berbahaya yang diperlukan untuk
mencegah infeksi dan meningkatkan performa vaksin. Seperti merkuri,
formaldehyde, dan aluminium, yang dapat membawa efek jangka panjang
seperti keterbelakangan mental, autisme, hiperaktif. alzheimer,
kemandulan, dll. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah anak autis meningkat
dari antara 200 – 500 % di setiap negara bagian di Amerika.
Babi dalam Vaksin?
Penggunaan asam amino binatang babi dalam vaksin bukanlah berita yang
baru. Bahkan kaum Muslim dan Yahudi banyak yang menentang hal ini
karena babi memang diharamkan, seperti tertuang dalam Qur’an ayat
berikut : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,
(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik,
yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas,
kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang
disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan
anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan)
agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah
kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja
berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”
(Qur’an surah Al-Maidah (5) ayat 3).
Bahkan dalam Perjanjian Lama (Taurat) juga disebutkan : “Jangan makan
babi. Binatang itu haram karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak
memamah biak. Dagingnya tidak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh
disentuh karena binatang itu haram.”(Imamat 11 : 7-8).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar